rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites
Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Sunday, July 5, 2015

Wong Derita Full (Wonderful) indonesia


       “I love you full Indonesia”, demikian posting pemilik akun disalah satu media sosial setelah berkunjung pada salah satu lokasi wisata yang ada di Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa Indonesia memiliki potensi pariwisata yang cukup besar dengan berbagai cagar alam, suku, budaya, dan pesona bahari.  Pariwisata sangat dipersepsikan sebagai contributor devisa bagi pembangunan ekonomi suatu Negara termasuk Indonesia, menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization) yang dikutip oleh Spillane (1993), pariwisata mestinya dikembangkan oleh setiap negara karena delapan alasan utama yaitu: (1)Pariwisata sebagai faktor pemicu bagi perkembangan ekonomi nasional maupun international. (2)Pemicu kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa-jasa pelayanan lainnya. (3)Perhatian khusus terhadap pelestarian budaya, nilai-nilai sosial agar bernilai ekonomi. (4)Pemerataan kesejahteraan yang diakibatkan oleh adanya konsumsi wisatawan pada sebuah destinasi. (5)Penghasil devisa. (6)Pemicu perdagangan international. (7)Pemicu pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan profesi pariwisata maupun lembaga yang khusus yang membentuk jiwa hospitality yang handal dan santun, (8)Pangsa pasar bagi produk lokal sehingga aneka-ragam produk terus berkembang, seiring dinamika sosial ekonomi pada daerah suatu destinasi. Berangkat dari hal tersebut maka  pemerintah menargetkan kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat dari 4,2 persen ditahun 2014 menjadi 8 persen ditahun 2019, kedatangan para turis mancanegara diharapkan dapat mendatangkan devisa dari Rp. 120 triliun menjadi Rp. 260 triliun ditahun 2019. Berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) mulai dari promosi pariwisata sampai pembenahan dan pelestarian beberapa destinasi wisata yang ada di Indonesia, akan tetapi pertanyaannya sejauh mana keberhasilan pemerintah Indonesia dalam mencapai target pemasaran pariwisata ?.
Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 – 2025 disebutkan Tujuan Pembangunan Kepariwisataan Nasional yaitu mengkomunikasikan destinasi pariwisata Indonesia dengan menggunakan media pemasaran secara efektif, efisien dan bertanggung jawab, atas dasar inilah pemerintah saat ini melakukan promosi dengan brand yang masih sama sejak tahun 2011 yaitu Wonderful Indonesia. Mendengar brand yang ada saat ini mungkin kita masih teringat dengan brand beberapa event milik negeri gajah putih yang juga menggunakan nama Wonderful Thailand, entah pemerintah kita cukup kreatif dengan brand nya atau mereka sudah kehabisan ide dan gagasan lagi mengenai promosi pariwisata.
Promosi atau Persoalan
Tahun 2015 anggaran khusus untuk promosi pariwisata (branding, iklan, dan selling) mencapai Rp. 1 T dengan target 10 juta wisman yang akan dibagi ke dalam tiga pasar, yakni Asean (50%), Asia Pasifik (30%), Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (20%). Anggaran promosi khusus untuk pariwisata tahun ini cukup fantastis dibanding tahun 2014 yaitu sebesar Rp. 373,025 miliar. Secara efektifitas dan efesiensi penggunaan anggaran tentu saja semua memiliki persepsi yang berbeda namun sependapat bahwa ukuran efektifitas promosi adalah bertambahnya wisman yang berkunjung di Indonesia. Trend Kunjungan wisman ke Indonesia terus mengalami kenaikan, meskipun masih 3 pintu yang mendominasi (Bali, Jakarta, Batam), kenaikan rata-rata mencapai 7 persen sepanjang tahun 2007 – 2014 (BPS) kenaikan kunjungan wisman ini diklaim oleh pemerintah karena penerbangan ke lokasi destinasi wisata cukup mudah, kemudahan dokumen wisman, sejumlah event dan promosi yang telah dilakukan pemerintah.
Anggaran Rp. 1 T yang diperuntukan khusus promosi pariwisata sangat boros serta menjadi persoalan tersendiri. Persoalan yang pertama target yang hanya 10 juta orang wisman berkunjung, target ini tentu saja sangat kecil yang hanya menambah 560 ribu orang dengan anggaran yang sangat besar bahkan lebih rendah jika dibandingkan tahun 2014 dengan total kunjungan 9,44 juta menambah 640 ribu jiwa atau 7,19 persen orang dari tahun sebelumnya dengan angka kunjungan 8,8 juta jiwa (BPS). Jadi dengan anggaran Rp. 1 T pemerintah akan memberikan subsidi kepada wisman Rp. 1,7 juta per kepala itu sama saja memberikan biaya gratis kepada wisman yang berkunjung ke Indonesia, seharusnya normal dana pemasaran itu sebesar 5 USD untuk satu orang wisman, jadi dengan anggaran 1 T maka target seharusnya adalah 13 sampai 15 juta jiwa kunjungan wisman. Persoalan yang kedua adalah logika besar biaya pemasaran akan berbanding lurus dengan hasil yang diinginkan atau semakin besar anggaran promosi maka semakin besar juga wisatawan asing yang akan berkunjung ke Indonesia, dengan dana promosi yang mencapai Rp. 1 T tentu saja wisatawan asing akan bertambah dan akan melebihi target, dengan anggaran promosi yang besar maka kita dapat menyimpulkan bahwa promosi merupakan variable yang sangat mempengaruhi kunjungan wisman ke Indonesia. Sekarang mari kita lihat data pada tahun 2013 dimana  anggaran promosi pariwisata sebesar Rp. 607,700 miliar dengan total kunjungan mencapai 8.802.129 wisman, dan pada tahun 2014 anggaran promosi berkurang hampir 50 persen yaitu Rp. 373,025 miliar dengan total kunjungan wisman 9.345.411 atau meningkat 7,19 persen. Berdasarkan data yang telah ada maka sudah jelas bahwa variable yang sangat mempengaruhi kunjungan ke Indonesia bukanlah pemasaran atau promosi melainkan terdapat faktor lain yang tentu sangat mempengaruhi kunjungan wisman. Jadi anggaran 1 T yang diperuntukkan khusus promosi hanya akan menjadi persoalan.
Pembangunan Pariwisata
Pariwisata Indonesia selama ini hanya fokus pada tiga hal yakni hospitality, travel and tour, dan MICE. Sementara destinasi wisata masih cenderung diabaikan karena dukungan pemerintah pusat juga masih sangat minim hal ini dapat kita lihat pada focus pembenahan pemerintah yang hanya focus membenahi 3 pintu utama pariwisata mungkin karena di Indonesia terdapat begitu banyak obyek dan atraksi wisata yang menarik sehingga pemerintah sendiri kebingungan dalam skala prioritasnya. Seharusnya dalam mengembangkan pariwisata terdapat tiga dimensi yang patut dipertimbangkan (Murphy ; 2005). Dimensi yang pertama meliputi menajemen sumber daya  pengelolaan dan pengembangan objek wisata, pendidikan komunitas pendukung, serta terpenuhinya infrastruktur yang memadai. Dimensi yang kedua manajemen itu harus ditekankan pada pemahaman bahwa pariwisata sebagai aktivitas ekonomi harus mampu menguntungkan komunitas, ketika komunitas diberi kesempatan untuk mengelola dan mendapat keuntungan maka mereka diharapkan bisa menjaga dan mengembangkan warisan budaya, dan warisan lainnya secara utuh dan terus menerus. Dimensi yang ketiga yaitu pentingnya memenuhi aturan sosial dalam hal ini adalah menghargai kehidupan warga, lingkungan, dan tradisi yang ada. Bila dimensi ini terpenuhi maka tanpa anggaran promosi pun Indonesia akan tetap dikunjungi karena seluruh elemen masyarakat melalui komunitas akan terlibat dan menjadi volunteer dalam setiap aktivitas pariwisata, sebaiknya pemerintah dalam hal ini kementerian Pariwisata mengembangkan beberapa strategi pemasaran yang tidak lagi konvensional seperti iklan, event yang menghabiskan anggaran berlebihan namun tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Beberapa data yang telah disebutkan sebelumnya menunjukkan bahwa indicator wisman berkunjung ke Indonesia bukan karena promosi yang telah dilakukan oleh beberapa pihak akan tetapi masih banyak hal yang menarik minat wisman berkunjung ke Indonesia, sebaiknya pemerintah membina komunitas pariwisata seluruh Indonesia dan memberikan ruang yang sebesar-besarnya kepada mereka untuk bersama-sama menjual wisata Indonesia bila ini dapat dilakukan maka hal-hal yang kurang dalam item ranking pariwisata Indonesia dapat bersama-sama dibenahi.  







[ baca selengkapnya.. ]

Sunday, June 7, 2015

Bulan Pancasila dan Bangga Menjadi Indonesia

Sejarah adalah perhelatan ruang waktu yang selalu memanggil kita untuk menapaki tiap lintasan sejarah yang telah terjadi pada masanya. Tidak hanya itu dalam pelintasannya sejarah selalu melahirkan hal-hal yang baru. Ibarat mahluk, sejarah mengejar eksistensi serta mendamba pujaan. Mungkin itulah mengapa Ibnu khaldun menyimpulkan bahwa sejarah tidak hanya bicara tentang kejadian pada peristiwa atau tokoh yang merujuk pada seseorang dan waktu pada masa lalu, tapi sejarah adalah “sesuatu yang mampu memberikan kekuatan intuitif dan insfiratifa”. ia hidup dan terus bergerak secarah intuitif serta inspiratif ,mengganti pelaku dan peristiwanya  dan menjelma yang oleh Ibnu khaldun disebut sebagai "makna" pada posisi inilah dimana sejarah menjadi kekuatan, serta menjadi dasar dari lahirnya sejarah yang baru.
Sebagai sebuah Negara yang terbentuk atas kesatuan politik dan kebudayaan, dengan keragamannya Indonesia adalah salah satu Negara yang dalam konteks sosio antropologis merupakan telagah sejarah, yang senantiasa ada dan menggerakkan serta memandu kehidupan Bangsanya. Pancasila misalnya, ia tidak hanya menjadi dasar dari tata kehidupan berbangsa dan bernegara tetapi lebih jauh Pancasila akan terus senantiasa hidup serta mengaharubirukan Bangsa ini  pada tiap dinamika zamannya. 
Sebagai Pemuda maka ada dua peristiwa penting dalam babakan sejarah bangsa ini, yang pertama adalah Kongres Pemuda di Jogjakarta pada 1928 dalam hal ini melahirkan sumpah pemuda, serta hadirnya Pancasila sebagai sebuah falsafah Negara pada 1 juni 1945 pada ruang sidang BPUPKI. Kelak kedua peristiwa inillah yang  memandu dan menggerakkan perjalanan sejarah Bangsa ini sebagai sebuah Negara Bangsa. Kelahiran Pancasila ini kelak diperingati tiap tahunnya dengan berbagai macam perayaannya. Perayaan serta peringatan yang dilakukan  tiap bulan Juni, yang selanjutnya disebut sebagai Bulan Pancasila, hal yang sama pada Kongres Pemuda ke 2 Pemuda Indonesia di Oktober penaggalan 29, gelora dari sumpah tersebut senantiasa mengisi tiap sudut Bangsa ini.
Tulisan atau tepatnya catatan yang  hadir dan di ilhami bahwa bulan ini adalah Bulan Pancasila (Juni), serta beberapa pekan yang lalu tepatnya 29 April 2015  sebuah seruan patriotik kembali digelorakan oleh Pemuda di Bangsa ini. Sebuah semboyan atau seruan yang menunjukan kualitas dan kesadaran Nasionalisme dari pemuda tersebut. Selanjutnya tulisan ini akan menyandingkan fenomena dan generasi muda Bangsa ini tentang Pancasila sebagai sebuah pandangan hidup berbangsa dan bernegara di Republik ini.

PANCASILA DAN REALITAS SOSIALNYA

Pancasila dalam konteks Negara Bangsa adalah pandangan hidup yang tidak jarang menggeser posisi kepercayaan spritual atau dalam hal ini Agama. Hampir tidak ada celah serta kokosongan yang terdapat pada Pancasila sebagai sebuah panduan hidup dan sebagai dasar Hukum bagi Negara ini. Pancasila sama sekali tidak menampakkan celah ketidakadilan, ia (Pancasila) adalah tinjauan akhir dari nilai kemanusiaan di Bangsa ini, pancasila adalah rekat perbedaan serta rajutan dinamis dari kebudayaan serta seluruh latar belakang hidup yang berbeda beragam di Bangsa ini. Sebagai sebuah falsafah Negara posisi Pancasila memiliki peran sebagaimana peran Genologi dalam pengetahuan yang dijabarkan oleh Michael Foucault bahwa ia bukanlah teori tapi lebih merupakan cara pandang atau model perspektif untuk menempatkan diskursus, praktek sosial dan diri kita sendiri dalam wilayah relasi kuasa, bahkan secarah Fungsional dalam konteks Negara Bangsa sebagai falsafah, Pancasila memiliki peran yang lebih dari itu. Yudhie Latief dalam kolom tulisan yang beliau sajikan dalam Blog dengan judul “Mental Pancasila” mengurai sebagai berikut “Pancasila sesungguhnya bisa memberikan landasan visi transformasi sosial yang holistik dan antisipatif.  Berdasarkan pandangan hidup Pancasila, perubahan sistem  sosial merupakan fungsi dari perubahan pada ranah mental-kultural". Boleh jadi tulisan Yudhie Lateif ini adalah kritik atau tawaran konsepsional terhadap Revolusi Mental yang beberapa waktu yang lalu sangat marak dibahas di Bangsa ini. Bagi Yudhie Latief untuk mengatasi krisis multidimensional yang melanda bangsa ini, imperatif Pancasila menghendaki adanya perubahan mendasar secara akseleratif, yang melibatkan revolusi material, mental-kultural, dan politica, Hal ini selanjutnya beliau bagi kedalam tiga ranah Revolusi; revolusi basis yang bertujuan menciptakan kekuatan perekonomian dan berbasis pada usaha bersama (gotong royong), revolusi suprastruktur yang bertujuan menciptakan masyarakat religious yang berasaskan pada prinsip perikemanusiaan, dan revolusi (agensi) political yang berorientasi pada tercipatanya agen perubahan yang berbasis terwujudnya kekuatan Nasional melalui kekuatan demokrasi permusyawaratan dan beorientasi pada persatuan Nasional.
Pancasila dalam Realitas sosialnya atau dalam hal ini Indonesia dalam kehidupan Berbangsa dan Benegara,adalah potret degradatif dari sebuah Bangsa yang besar dan perlahan-lahan lumpuh akibat ketidak mampuannya dalam menghadapi tantangan zamannya. Sebuah kenyataan yang menimbulkan ironi mengingat Bangsa ini dengan segalah potensinya seharusnya mampu melalui dan manjawab semua kebutuhan zamannya. jalan keluar yang dipaparkan oleh yudhie latief tersebut merupakan sesuatu yang hadir dari fenomena yang tidak  sulit kita jumpai di Bangsa ini.
Upaya pembangunan ekonomi dibangsa ini kian hari menciptakan jurang terjal kemiskinan dibalik tumpukan kekayaan, individualisme, disharmoni serta distegrasi kian hari menggerus kekuatan Bangsa menjadi pesakitan yang tak berdaya mengahdapi kondisinya. Keberagaman yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Bangsa ini kian waktu  berubah menjadi kekuatan yang destruktif dan menjadi teror terhadap toleransi dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Demokrasi dan dunia pendidikan kita kian hari tergerus oleh liberalisme yang bila tidak dihalau akan mengkaburkan identitas kita Sebagai sebuah Bangsa. Kita menyaksikan praktek kekuasaan yang makin jauh dari hikmah dan kebijaksanaan sebagai subuah Bangsa yang beradab dan memiliki Nilai religiusitas yang tinggi.

GENERASI MUDA BANGSA INI

Generasi Muda kita adalah Generasi yang lebih memaknai "merah" pada tim Setan Merah yang ada di Mancester United ketimbang makna Merah yang ada pada "sang saka merah putih". Generasi Muda yang lebih tercengang pada hasil bursa transfer pemain sepak bola pada daratan Eropa ketimbang arus impor kedelai, gula, dan sebagainya. Generasi Muda yang terdidik oleh arus waktu keluarga yang berpacu dengan karir, hingga media televisi dengan segala kenyamananya, menampakkan kekuatan hegemonik kapitalismenya dan menjalar bebas mendikte perilaku anak-anak kita. Generasi Muda kita adalah Generasi Muda yang oleh perkembangan teknologi informasi yang tidak terkontrol mencipatakan sebuah fenomena bagi kebudayaan kita, sebuah kebudayaan yang mewujudkan perilaku minder sebagai anak Bangsa, sebuah kebudayaan yang melahirkan sikap pemujaan terhadap Bangsa lain serta sikap yang tidak terikat dengan moralitas sebagai anak Bangsa.
Generasi kali ini adalah generasi yang diperhadapkan dengan keramahan serta kengerian dari ilmu dan pengetahuan dan  teknologi informasi sebagai piranti utamanya. Menariknya fenomena kemajuan Ilmu Pengetahuan adalah sesuatu yang kita inginkan sebagai sebuah upaya mencerdaskan kehidupan Bangsa. Disinilah tantangan tersebut menuai medannya sebuah kenyataan dimana kita harus mengenyam kamajuan ilmu pengatahuan dan teknologi tersebut sementara disisi lain dampak negative terhadap kepribadian kita sebagai Bangsa Indonesia terancam. Pada kondisi ini kita menyaksikan ketidak berdayaan Negara dalam menciptakan suatu tatanan yang mampu menumbuh kembangkan dunia pendidikan yang berasaskan pada nilai luhur Pancasila. Akhirnya dunia pendidikan kita adalah dunia yang tidak lagi menjadi medium pencerahan dalam membentuk watak serta kepribadian Bangsa Indonesia. Akan tetapi dunia Pendidikan kita adalah wajah serah dari liberalisme.  Realitas dunia pendidikan yang terbajak oleh liberalisme itulah yang menciptakan manusia-manusia yang serakah dinegeri ini. Kebudayaan Liberalisme dengan modernitasnya menumbuh kembangkan apa yang disebut oleh Theodor Adorno dalam dialektika pencerahannya sebagai “dorongan psikologis manusia yang berkeinginan kuat untuk mengusai yang lain”.

MAKNA SEJARAH SEBAGAI SEBUAH KEKUATAN
Bangsa ini telah tiba pada satu tahap yang krusial, tahap yang bila mana tidak disadari serta disikapi dengan seksama tahapan akan berubah dari momentum kebangkitan dan desktrutifitas sebagai gantinya. Ditengah pusaran "Pasar Asean" kita berada pada kondisi Demografis yang entah menjadi petaka atau peluang. Kita memiliki usia angkatan kerja yang banyak bahkan sangat jauh melebihi Negara Asean lainnya. secarah georafis kekayaan sumber daya alam khususnya lautan telah mewujudkan kesadaran yang baru yaitu menjadikan potensi bahari sebagai dasar pembangunan kedaulatan ekonomi kita.
Tahap atau fase perjalanan ini seyogyanya mengajak kita merenung dan menemukan kembali  makna, serta otentitas kedirian kita sebagai Bangsa Indonesia. Fase yang mengharuskan kita meremuskan atau menggali kembali seluruh potensi keberdayaan kita. Potensi tersebut tentunya tidak hanya berkaitan dengan keberdayaan kita secarah Ekonomi serta kekayaan sumber daya alam kita, akan tetapi keseluruhan potensi bangsa ini pada akhirnya harus kita gerakan secarah padu, termasuk dalam hal ini kekuatan yang berkaitan dengan kehidupan sosial kita sebagai sebuah Negara Bangsa. Kekuatan yang menyimpan keluhuran nilai sebagai bangsa yang berbudaya serta pandangan hidup yang membentuk watak dan kepribadian manusia Indonesia, serta menjadi dasar dari semua kedaulatan Bangsa Indonesia sebagai sebuah Negara. Termasuk dalam hal ini adalah sejarah dengan kekuatan intuitif dan inspiratifnya.
Seperti diungkap oleh psikolog Martin Seligman, optimismelah yang mendorong kesuksesan. Impian kemajuan suatu bangsa tak bisa dibangun dengan pesimisme. Tentu saja yang kita perlukan bukanlah suatu optimisme yang buta, melainkan suatu optimisme dengan mata terbuka, mampu menumbuhkan harapan yang tentunya harus disandarkan pada cita yang luhur atau visi. Dari timur jauh dibangsa ini, ditanah Papua nun jauh disana telah tercipta satu "harapan" yang digelorakan oleh KNPI. Harapan yang bergelayut bersama suatu pesan yang tidak hanya mengejewantahkan patriotisme KNPI tetapi pesan tersebut secarah sosiologis menyejukkan kembali suasana kebangsaan kita, pesan yang menampilkan otentitas kesatuan pemuda indonesia sebagai sebuah kekuatan kebudayaan yang senantiasa menopang Bangsanya sebagai sebuah Negara.
"BANGGA JADI PEMUDA INDONESIA." sulit kita membayangkan bahwa "semboyan" atau pesan ini lahir dari anak bangsa yang tidak hanya secara georafis berada pada titik tepi bangsa ini. akan tetapi realitas pembangunan Papua adalah realitas pembangunan yang timpang dan jauh dari makna keadilan. Dibutuhkan suatu mental ideologi, serta optimisme yang matang bagi siapapun untuk menggelorakan semboyan tersebut, tapi itulah kenyataanya Muhammad Rivai Daus yang baru ini terpilih pada Kongres Nasional Pemuda Indonesia diawal pidatonya sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) beberapa waktu yang lalu dihadapan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Indonesia dengan tegas beliau menyampaikan "Saya adalah anak Indonesia yang lahir ditimur jauh Indonesia, tanah Papua, saya bangga menjadi pemuda Indonesia".  Bisakah sejarah itu berulang? tidak! sejarah telah bertransformasi, menuntut eksistensinya, mengganti persitiwa dan pelakunya dan tidak meninggal hakikat kehadirannya.
Arus kebangkitan pemuda pada masa silam hadir sebagai pijakan kekuatan yang baru. sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sumpah pemuda 1928 bukanlah merupakan peristiwa politik yang digerakkan oleh Pemuda, melainkan ia adalah peristiwa kebudayaan. Semboyan "bangga jadi pemuda Indonesia" tidak hanya mengingatkan kita pada 1928 silam tepatnya pada 28 Oktober dimana pemuda Bangsa ini telah memutus matarantai Feodalisme menjadi sebuah kesadaran baru yang secarah esensial tidak hanya menyerukan nasionalisme dan persatuan Indonesia, melainkan peristiwa tersebut adalah awal dari peletakan karakter dan jati diri Bangsa ini.
Pada zamannya "Bangga Pemuda Indonesia" sebagai seruan kekuatannya mengehentak kembali patriotisme dan Nasionalisme pemuda Bangsa ini, untuk kembali kemedan juangnya. Medan juang yang tidak lagi menutut militansi dengan darah dan air mata, tapi ia menuntut karya serta dedikasi sebagai wujud dari pariotisme. Pada dasarnya bangga jadi pemuda Indonesia adalah sebuah kesadaran yang lahir dari nasionalisme Pemuda dimana kesadaran tersebut terus bergerak menuju level daya cipta sebagai wujud terhadap komitmen mengisi dan mengawal kemerdekaan yang telah dipersembahkan oleh pendahulunya. Bangga jadi pemuda Indonesia adalah kesadaran baru sebagai anak Bangsa yang tidak lagi melihat ketimpangan pembangunan, ketidak adilan serta seluruh problematika sosial Bangsa yang ada dibangsa ini menjadi sepenuhnya tanggung jawab Negara. Sikap bangga menjadi pemuda Indonesia membentuk suatu cara pandang kritis dan  solutif serta menempatkan pemuda sebagai problem solver bagi semua permasalahan Negara yang memberi ruang partisipasi bagi pemuda untuk mengabdi pada Bangsanya,
Tindakan bangga menjadi pemuda Indonesia  adalah tindakan yang lahir dari kesadaran holistik sebagai anak Bangsa yang memiliki ikatan moral dengan Indonesia sebagai Negara Bangsa, dan pada akhirnya kesadaran terhadap ikatan moral inilah yang memupuk rasa bangga menjadi pemuda Indonesia tersebut. Beratnya amanah yang lahir dari ikatan moral tersebut melahirkan komitmen dedikatif serta melahirkan naluri kekaryaan Pemuda bagi kelangsungan kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Indonesia ini.
Lalu bagaimana relevansi euforia kebangkitan tersebut dengan Pancasila?. Hal yang penting bagi kita semua bahwa Indonesia sebagai institusi adalah Negara, kehadirannya bukanlah merupakan pengaruh politik semata tetapi pada sisi yang lain Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan produk kebudayaan dimana secarah geografis bermula pada doktrin Nusantara. Pada kesimpulan inilah kita optimis bahwa resonansi Indonesia sebagai Negara yang berdiri pada simbiosa politik dan kebudayaan adalah resonansi yang memberikan ruang pada kemanusiaan dengan segala dinamika perilaku dan interaksinya sebagai mahluk sosial satu sisi dan warga negara pada sisi lainnya. Secarah arkeologis Pancasila sebagai pandangan hidup akan terus hidup bersama arus kemanusiaan dan dinamika kewargaan itu sendiri di Negara Bangsa ini.
Betapapun beratnya tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digusung oleh kapitalisme menggerus nilai kemanusian dan mengancam tatanan kebudayaan kita, namun pada akhirnya kepada ilmu dan pengatuan pulalah kita harus menyandarkan harapan dan optimisme tersebut. Secarah teoritis Abraham Maslow sebagai tokoh fenomenologi dalam konsep pembangunan manusia secarah mikro menyatakan bahwa manusia adalah subjek terhadap kenyataan atau fenomena yang ia hadapi oleh karena manusia akan terus senantiasa mencari sesuatu yang ia simpulkan sebagai sebuah titik kesempurnaan. 
Menyelamatkan institusi pendidikan Bangsa ini merupakan keharusan bagi kita semua, pendidikan kita mesti kembali menyemai ajaran dari nilai luhur kemanusian dan semua kekakayaan hidup yang terkandung dalam butir-butir Pancasila, hanya dengan inilah para generasi muda akan kembali menemukan makna serta moralitasnya sebagai anak Bangsa yang hidup diatas ragam perbedaan serta kebudayaan yang unik dan sejuk dalam tata nilai kehidupan sosialnya. Generasi muda yang oleh Ir. Soekarno "tidak bermental tempe". 
Optimisme kita terhadap Pancasila bahwa sebagai pandangan hidup Pancasila menempatkan segala kemulian eksitensi serta hak asasinya, Pancasila memandang setiap pribadi sebagai sesuatu yang terbentuk dan membentuk relasi sosialnya sehingga keparipurnaan manusia dalam pandangan Pancasila adalah sesuatu yang lahir dari kemampuan pribadi tersebut dalam mengoptimalkan kehidupan sosialnya. Pada keluhuran ajaran inilah kita menaruh harapan dan keyakinan bahwa Negara ini dengan Pancasilanya akan senantiasa menjadi Bangsa yang menempatkan keadilan sosial serta segala hal yang terkait Prikemanusiaan. Terakhir adalah suatu kenyataan yang pahit digambarkan Fritjof Capra dalam karyanya “The Turning Point” yang sepenuhnya menjelaskan kegagalan modernisme dalam mencapai tujuan kemanusiaan, telah terjadi krisis multidimensional yaitu dimensi intelektual, spiritual dan moral, yang kesemuanya disebabkan oleh modernisme yang awalnya menjadi alternatif tidak mampu lagi mengangkat kemanusian oleh karena telah melenceng dari kebudayaan. Hal ini memberikan suatu penjelasan utuh bahwa Pancasila dengan semua nilai moral spritualnya akan senantiasa kokoh, tugas kita adalah merawat ideologi ini, agar senantiasa tumbuh dan menumbuhkan kebudayaan kita sebagai Negara Bangsa Indonesia.

Oleh Agus Toro (Aktifis PB HMI) 

[ baca selengkapnya.. ]

Tuesday, March 24, 2015

Mahasiswa, Pemuda dan Kebudayaannya

               Dinamika suatu entitas kehidupan dalam perjalanannya tidak pernah terlepas dari koordinat zamannya. Kemampuan membaca teks zamannya, kemampuan adaptif dan dan evolutif menjadi prasyarat eksisnya entitas pada suatu ruang dan waktu. Secara empirik, banyak entitas yang kemudian kehilangan energi kreatifnya untuk tetap bertahan dalam dinamika kehidupan yang dinamis karena terlampau jauh menyimpang dari apa yang menjadi kebutuhan, keinginan dari zamannya. Secara historis kehidupan mengenal banyaknya Peradaban Besar yang pernah tumbuh berkembang dan besar dizamannya, untuk kemudian runtuh dan menyisakan sisa peradaban yang menjadi input bagi peradaban selanjutnya, hal ini disebabkan ketidakmampuan menjawab tantangan zamannya.

            Dinamika kehidupan mahasiswa sebagai bagian sistemik dari kehidupan kontomporer juga tidak terlepas dari hukum sejarah ini. Ini menyiratkan perlunya kesungguhan dan keseriusan dalam membaca teks zaman, untuk kemudian adaptif agar tetap mampu bertahan dan mewarnai Zamannya.  Kemampuan bertahan saja bukan menjadi tujuan final, tapi bagaimana kita mampu mewarnai gerak Zaman dengan apa yang menjadi keinginan kemanusiaan  yang berlandaskan pada Keadilan dan kebenaran.

            Salah satu kecendrungan yang menguat di era sekarang ini adalah semakin melumernya batas-batas, baik batas secara fisik misalnya batas-batas geografis yang selama ini menjadi penghalang dalam interaksi untuk saat sekarang ini makin mengabur disebabkan semakin majunya tekhnologi komunikasi dan informasi, maupun batas-batas nonfisikal misalnya budaya, sehingga tidak ada lagi perbedaan substansial antara kelas menengah di Jakarta, London, Makassar, semua mengkonsumsi coca-cola, memakai jeans Levis, semua memusat pada satu budaya yang sifatnya global dan menggurita yaitu budaya konsumerisme massal. Budaya konsumerisme massal dan pemanjaan akan hasrat kemudian menjadi attraktors dan melakukan hegemoni pada segenap dimensi ruang dan waktu, menarik apa yang ada disekitarnya kedalam pusarannya. Semakin terpinggirlah budaya-budaya lokal yang muncul dari pengalaman adaptif masyarakat lokal pada kehidupan, hilanglah kearifan-kearifan sebagai intisari budaya lokal tadi.

 Ada dimensi lain dari budaya yang kadangkala terabaikan, tetapi sangat urgensif, dimana budaya yang berperan sebagai identitas dan lencana pembeda yang menjadi jati diri bagi setiap individu dalam suatu masyarakat. Dengan semakin terkikisnya budaya, maka semakin kaburlah jati diri dan identitas, keterasingan, sehingga yang ada adalah individu maupun masyarakat yang kehilangan jati diri dan terasa asing dengan dirinya.

Ini juga menjadi ancaman bagi kehidupan kampus dengan budaya akademiknya yang berlandaskan pada rasionalitas. Apalagi untuk konteks negara transisi yang belum mengalami pematangan difrensiasi dan optimalisasi peran struktur sosialnya. Kaburnya identitas dan jati diri yang telah lama kita rasakan inilah yang sangat mengancam kelangsungan hidup, ini jugalah salah satu akar dari beberapa akar masalah sehingga kampus kemudian alih-alih mampu mewarnai zamannya, untuk bertahan hidup saja Kampus sudah terseok-seok, padahal kerinduan pada kampus yang menjadi suluh bagi penindasan dan ketidakadilan adalah fitrah kedirian kampus.

Perangkat teoritis yang didapat diruang-ruang kuliah dan budaya akademik yang berlandaskan pada penghargaan atas Rasio kemudian menguatkan dan mematangkan pisau analisa dan kerangka teoritik yang digunakan untuk menggeledah masalah social kemasyarakatan dan ketimpangan yang muncul demi pengabdian kita pada keadilan dan kebenaran itu sendiri. Begitulah mungkin harapan dan keinginan yang masih menjadi ideal-ideal belaka didunia kenyataan ini.

Kemampuan membaca teks zaman untuk kemudian melakukan adaptasi dan turut mewarnai zaman menjadi kebutuhan objektif bagi masyarakat kampus saat ini. Untuk itulah yang strategis dan urgensif kita lakukan adalah bagaimana membumikan dan menumbuh kembangkan budaya akademik dalam masyarakat kampus sendiri sebagai langkah awal. Tapi satu yang menjadi catatan, bahwa kita berhadapan dengan kemapanan yang telah melembaga sehingga kemudian proses pembumian menjadi agenda panjang yang kontinuisitas sifatnya.

Bonus demografi pemuda Indonesia menempatkan posisi negara ini sebagai negara yang memiliki potensi sangat besar mengingat usia produktif manusia berkisar dari 15-30 Tahun dan negara ini memiliki jumlah pemuda sebesar 40% (data pemilu 2014). Dengan hal itu maka seharusnya ruang rasio dan skill value dalam kehidupan kampus tetap menjadi iklim yang tidak tergilas oleh budaya budpop.

          Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membentuk mahasiswa mengingat bahwa mahasiswa adalah bagian dari pemuda yang akan menjadi harapan bangsa dan hal ini juga butuh kerjasama oleh pihak terkait (birokrasi kampus, pemerintah). Hal tersebut adalah mewujudkan keserasian kebijakan mahasiswa di berbagai bidang pembangunan, memperluas kesempatan pemuda memperoleh pendidikan dan keterampilan, meningkatkan peran serta mahasiswa dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, lingkungan hidup, ketahanan, keamanan serta budaya dan agama,    meningkatkan potensi pemuda dan mahasiswa dalam kewirausahaan, kepeloporan, dan kepemimpinan dalam pembangunan, memperkokoh pembinaan mental, moral dan spiritual generasi muda yang berbasis pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bila hal itu bisa kita lakukan mungkin mahasiswa dan pemuda Indonesia tidak akan tertindih oleh beratnya beban Globalisasi malah sebaliknya pemuda Indonesia mampu menguasai laju dan pasar Globalisasi.

Mahmud Amir (Mahasiswa Pascasarjana, Aktifis PB HMI)

[ baca selengkapnya.. ]

Realitas Politik; Agama Dalam Solusi


Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut cenderung absolut pula korupsinya. Orang-orang besar hampir selalu orang jahat “Lord Acton”

Seperti apa yang disampaikan oleh Lord Acton saya pun berpendapat demikian dengan melihat berbagai macam kisruh yang terjadi akibat perebutan dari kekuasaan. Terdapat kecenderungan bahwa realitas politik dalam penyelenggaraan kekuasaan yang selama ini berjalan lebih berorientasi pada kekuasaan atau politik untuk kekuasaan (politics of power) daripada memerankan politik nilai (politics of values) dalam membangun masyarakat yang bermartabat dan berbudi luhur.
Realitas politics of power juga, cenderung korup dan tidak adil dalam distribusi dan penggunaan kekayaan (uang negara), padahal di sana terdapat kekayaan yang menjadi hak anak yatim dan fakir miskin. Mereka melakukan kemungkaran politik secara kolektif dengan memakan harta hak anak yatim dan fakir miskin melalui pengurangan takaran raskin (beras untuk masyarakat miskin) menggunakan dana APBD dalam setiap kampanyenya, misalnya dan itu telah menjadi hal yang biasa dalam kontestasi politik di tanah air ditambah lagi dengan bentuk-bentuk penyimpangan kebijakan yang menjadikan masyrakat low class dengan berbagai profesinya makin menderita. Politik oposisi inilah yang selalu melahirkan ketegangan sosial antarumat beragama dan berbangsa.     
Orientasi politics of power yang tampaknya menjadi titik tolak pandang seluruh kontestan politik dalam pemilihan umum langsung tahun 2014, sehingga pemilu cenderung bukan mendatangkan rahmat, persaudaraan, kesejahteraan dan kedamaian, melainkan justru, melahirkan perpecahan dan konflik. Bukan hanya pada pemilu saja orientasi politics of power ini bekerja namun juga pada organisasi-organisasi kepemudaan seperti halnya yang baru saja terjadi di forum kongres KNPI di Jayapura dimana peserta saling sikut karena kepentingan kelompok atau golongan. Apakah realitas politik seperti yang kita inginkan ? tentu bukan saya saja yang tidak menginginkan hal seperti ini. Tantangan terberat masyarakat saat ini adalah menerjemahkan isi epistemis mengenai keyakinan-keyakinan religius yang spesifik ke dalam perbincangan rasional yang penuh saling pengertian. Kita yang sudah selalu hidup dalam masyarakat majemuk tidak akan bisa kecuali bekerja keras menjawab tantangan itu.
Thomas F. Odea ketika menjelaskan munculnya sebuah agama, menyebutkan bahwa sumber kerawanan atau dalam istilahnya breaking points (titik kritis) adalah karena manusia memiliki tiga karakteristik dasar eksistensi, yaitu ketidakberdayaan, ketidakpastian dan kelangkaaan. Jika karakter dasar manusia tersebut terakumulasi dan memuncak, maka masyarakat manusia cenderung akan mengalami apa yang disebut oleh Max Weber sebagai persoalan makna, yakni kebingungan, penderitaan, serta ketegangan etis dan sosial yang mengarah kepada penciptaan dunia masyarakat yang chaos. 
Anselm Von Peugrbach menyatakan bahwa agama dalam bentuk apa pun ia muncul, tetap merupakan kebutuhan ideal umat manusia. Peranan agama sangat menentukan dalam setiap bidang kehidupan sebab manusia tanpa agama tidak akan dapat hidup secara sempurna. Menurut Berger, legitimasi religius atau agama akan sangat efektif (dalam proses transformasi sosial-kultural), karena agama menghubungkan konstruksi-konstruksi realitas rawan dari masyarakat empiris dengan realitas purna (transenden).
Didalam keberagamaan terdapat tiga kaidah asasi agama yang pertama adalah kaidah ketuhanan yang mana kekuasaan bukanlah sebagai tujuan segalanya, melainkan hanya salah satu perwujudan pengabdian. Tentu saja hal ini tidak menempatkan kekuasaan sebagai tujuan hidup apalagi menjadikannya sebagai tahta yang terus harus diturunkan kepada anak cucunya seperti realitas ‘dinasti politik’ di Indonesia. Kekuasaan hanyalah suatu usaha untuk dapat menaikkan nilai rohani atau spiritualitas diri sehingga dapat mengelola alam/masyarakat sesuai kehendak Tuhan
Kedua adalah kaidah kemanusiaan, dimaksudkan bahwa penyelenggaraan kekuasaan harus diorientasikan (memiliki komitmen) untuk melakukan pembelaan terhadap kaum lemah (miskin, terbelakang dan tertindas), serta untuk penegakan keadilan dan kesejahteraan sosial.
Ketiga, kaidah peradaban, dimaksudkan bahwa penyelenggaraan kekuasaan harus diorientasikan (memiliki komitmen) untuk menciptakan masyarakat yang beradab dan berperadaban. Bukan sebaliknya, penyelenggaraan kekuasaan justru menciptakan masyarakat yang tidak beradab, di mana uang menjadi orientasi kekuasaan, kekerasan menjadi satu-satunya hakim atas semua nilai, manusia lawan manusia, serta kecurangan dan tipu daya menjadi seni kehidupan.
Dalam penyelenggaraan kekuasaan di Indonesia sebaiknya tetap berpegang pada tiga kaidah tersebut sehingga politics value dapat diciptakan dalam setiap dimensi kekuasaan Republik ini. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan oleh setiap unsur masyarakat terhadap pelaksanaan kontestasi politik dalam bentuk apapun (Pemilu, Kongres, Munas, dll) agar memperoleh keamanan, stabilitas, rasa keadilan, kepastian hukum, kedamaian, dan kesejahteraan.

Mahmud Amir (Mahasiswa Pascasarjana, Aktifis PB HMI)
[ baca selengkapnya.. ]

Wednesday, January 21, 2015

Kesiapan Indonesia Menjelang AEC 2015

Indonesia adalah salah satu negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia adalah bangsa yang heterogen dengan berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup bagus. ini menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju ASEAN Economic Community (AEC ) tahun 2015.

Regionalisme kawasan merupakan sebuah trend internasional yang berkembang pasca perang dunia II dimana negara-negara dunia mencoba membangun stabilitas kawasan berdasarkan kerjasama keamanan, ekonomi, persamaan sejarah dan kemiripan budaya dalam upaya menghindari terjadinya perang didalam kawasan geopolitik wilayah tersebut. European Union (EU) dan Associations of Southeast Asia Nations (ASEAN) merupakan beberapa badan regional yang terbentuk berasarkan latar belakang dan tujuan tersebut.

ASEAN sendiri terbentuk pada tanggal 8 Agustus 1967 dengan deklarasi Bangkok sebagai pilar utamanya. Selama ini kerjasama antar-negara di ASEAN terjalin dalam beberapa bidang utama yakni dalam bidang ekonomi, keamanan dan sosial-budaya yang terus meningkat dan terintegrasi setiap tahunnya. Saat ini ASEAN telah memiliki beberapa badan penting yang bekerja dalam sektor-sektor tersebut, beberapa diantaranya ialah AFTA (ASEAN Free Trade Area) dalam hal ekonomi, (ARF Asean Regional Forum) dalam hal keamanan kawasan, serta hubungan dengan asing seperti ASEAN+3 dan ASEAN+6.

ASEAN menjalankan regionalismenya berdarkan norma dasar ASEAN Way yang menjadi dasar pemikiran dalam kebijakan yang diambil oleh ASEAN dalam berbagai hal. Berdasarkan prinsip dan norma inilah ASEAN kemudian mencanangkan sebuah integrasi kawasan yang lebih mendalam seperti yang telah dilakukan EU dengan me-wacanakan pembentukan ASEAN Community pada tahun 2015. ASEAN Community 2015 merupakan salah satu agenda terpenting dalam sejarah pembentukan badan regional ASEAN. Dalam Roadmap ASEAN Community dalam situs resmi ASEAN, terdapat 3 blueprint dasar ASEAN dalam ASEAN Community 2015. Ketiganya adalah ASEAN Political-Security Community Blueprint, ASEAN Economic Community Blueprint, dan ASEAN Socio-Cultural Community Blueprint (www.aseansec.org/, 2012).

ASEAN Community 2015 sendiri mendapatkan banyak kritisi dari pengamat politik internasional, dimana berbagai perbedaan dan kasus domestik regional yang terjadi di antara negara-negara ASEAN sendiri belum usai. Bahwa community dan integrasi yang ingin dicapai ASEAN di tahun 2015 sebenarnya merupakan sebuah hal yang dipaksakan mengingat saat ini dengan berbagai kasus yang belum diselesaikan dan kooperasi yang belum cukup solid dikarenakan perang yang terjadi antar negara, tahun 2015 dirasa cukup singkat bahkan terlalu cepat untuk sebuah integrasi total kawasan Asia Tenggara.

Sependapat dengan pemikiran para kritisi, penulis merasa bahwa integrasi ASEAN yang pada awalnya dicanangkan pada tahun 2020 dipercepat pada tahun 2015 merupakan sebuah kalkulasi yang besar mengingat adanya masalah-masalah domestik yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. Seperti permasalahan Indonesa-Malaysia, Laut Cina Selatan, konflik perbatasan Thailand-Kamboja hingga kasus pelanggaran kemanusiaan dalam negeri Myanmar sangatlah complicated dan membutuhkan waktu penyelesaian, akan tetapi dilihat dari sisi demografi sumber daya manusia, Indonesia dalam menghadapi ASEAN Economic Community ini sebenarnya merupakan salah satu negara yang produktif.
        Selengkapnya download di sini
[ baca selengkapnya.. ]

Monday, May 28, 2012

Parlindungan Lubis; warga Indonesia yang merasakan dan lolos kamp konsentrasi PD II


Di DALAM tubuh Parlindungan Lubis, tidak setetes pun mengalir darah Yahudi. Dia Batak tulen dari Mandailing. Namun kenyataannya, dia harus mendekam selama lima tahun di kamp konsentrasi NAZI , dan masih beruntung bisa keluar dari tempat penyiksaan dan pembantaian yang sadis tiada tandingannya itu. Lubis mengisahkan pengalamannya yang luar biasa itu dalam sebuah otobiografi. Sudah agak lama beredar; namun buku tersebut masih tetap aktual sampai sekarang.


Pasalnya, dialah satu-satunya orang Indonesia yang mengalami langsung hari-hari mencekam di kamp konsentrasi Nazi. Tempat pembantaian yang mengerikan itu sengaja dibangun untuk mewujudkan impian gila Hitler, yaitu memusnahkan etnis Yahudi, kaum gay, orang-orang cacat, gipsi dan Saksi Jehovah.

Berikut ini Anda bisa menyimak mosaik-mosaik pengalaman Pandapotan Lubis yang sungguh dramatis itu, melalui resensi buku tersebut yang ditulis oleh Koencoro : Otobiografi Parlindoengan Loebis.


LUBIS berangkat ke Negeri Belanda untuk belajar Kedokteran, setelah lulus Kandidat I di Betawi (begitu dia menuliskannya). Semasa di Betawi, ia sempat aktif di Jong Islamieten Bond dan Jong Batak, yang kemudian bersama perhimpunan mahasiswa lain (selain Jong Java) bersatu membentuk PPPI dan Indonesia Moeda.

Di Leiden, tak lama ia direkrut Perhimpoenan Indonesia. Sepeninggal Hatta cs, PI bersifat kekirian, dengan garis Stalinis yang jelas. Sempat Lubis menjadi ketua, selama 3 tahun, dan membawa PI ke arah yang tak begitu kiri. Kerjasama dengan Partai Komunis Belanda dihentikan, lalu bekerjasama dengan Partai Sosialis (SDAP).

Kemudian PD II pecah. Mei 1940, saat Jerman bergerak ke barat, Belanda menyerah nyaris tanpa perlawanan. Dan bahkan kemudian kehidupan masih tampak normal dalam pendudukan Jerman. Sebelum serangan Jerman pun, partai NSB yang pro Jerman pernah memperoleh suara cukup besar (separuh suara) dari rakyat Belanda.

Selama pendudukan Jerman ini, Lubis sempat menyelesaikan kuliah di Leiden, lalu menikah di Haarlem, menjajagi bekerja di Utrecht, dan akhirnya membuka praktek di Amsterdam. Tapi kemudian, 26 Juni 1941, dua orang reserse Belanda menjemputnya. Loebis dipenjarakan, dan kemudian dipindahkan ke Kamp Konsentrasi. (Baru pada tahun 1945, Loebis mengetahui alasan penahanannya:

Ternyata Jerman sedang membuka front baru melawan Sovyet, dan para aktivis gerakan pro komunis ditakutkan menjadi partisan di belakang front). Kamp Konsentrasi yang pertama dihuni adalah Kamp Schoorl. Di sini, tawanan belum disuruh bekerja, tetapi hanya disuruh apel dan berolah raga. Kemudian seluruh isi kamp ini digabungkan ke Kamp Amersfoort. Di sini, tawanan memperoleh perkerjaan konstruksi, termasuk memasang kawat berduri. Juga mulai sering disiksa secara kejam, baik oleh orang Jerman, maupun terutama oleh orang NSB.

Lubis kemudian dipindahkan ke Kamp Buchenwald di Jerman. Di sini Lubis mulai kehilangan harapan untuk dibebaskan, kecuali perang berakhir dengan kekalahan Jerman. Ia memutuskan untuk hidup secara efisien dan tanpa hati, untuk bertahan hidup selama mungkin. Di Buchenwald, mereka membuka hutan di pegunungan berkabut, memecah batu, membuat barak, saluran air, listrik, bengkel, dll, selama 7 hari seminggu, 14 jam sehari. Tawanan sering dipukuli, bahkan hingga mati. Tawanan yang mengobrol ditembak.

Namun kemudian Lubis dipindahkan lagi, pada Oktober 1942, ke Sachsenhausen, ke instalasi pabrik pesawat perang Heinkel. Di sini situasi lebih baik. Kamp lebih difokuskan pada pekerjaan teknis, biarpun kekejaman masih berlangsung, dan menyita nyawa manusia segala bangsa di sana. Kali ini, dia ditugaskan sebagai dokter kamp, sehingga tugasnya lebih ringan. Lubis jarang mengulas tentang Yahudi. Ia beralasan bahwa barangkali para Yahudi dipisahkan, dan ditempatkan di kamp tersendiri. Atau barangkali … entahlah. Saat akhirnya pasukan sekutu berhasil masuk ke Jerman, Kamp kacau.


Para tawanan dan penjaga membentuk barisan tak teratur yang terus bergerak ke barat. Tawanan yang keluar barisan langsung ditembak di belakang kepala. Tapi banyak juga penjaga yang juga lari memisahkan diri. Mereka akhirnya berhenti di kampung Grabouw. Sempat barisan dari kamp lain bergabung. Dan akhirnya tentara Russia masuk juga ke kampung itu. Mereka resmi lepas dari tawanan. Tapi perlu waktu untuk memulihkan diri, dan mencari cara untuk lepas dari kawasan Russia, menyeberangi sungai Elbe, masuk ke kawasan Sekutu Barat, dan akhirnya kembali ke Belanda dengan kereta ke Maastricht, lalu naik mobil ke keluarganya di Amsterdam.

Namun, nun di timur, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, dan pada akhir 1945, berita itu mulai terdengar masyarakat Indonesia di Belanda. Lubis dkk langsung menyatakan diri bagian dari Republik Indonesia yang merdeka, dan kekikukan kemudian terjadi lagi. Sempat ada Kongres Pemuda Demokrat Sedunia di Cekoslovakia, dan Loebis ingin menghadiri kongres ini, atas nama Indonesia. Tentu Belanda tak memberikan pass, tetapi atas bantuan Inggris, dia bisa berangkat.

Sambutan untuk Indonesia amat meriah, membuat berang para pemuda Belanda. Lubis kembali ke Belanda menumpang tim Belgia. Pemerintah Belanda akhirnya memperbolehkan orang Indonesia kembali ke negerinya. Namun dengan status sebagai NICA. Banyak yang mengira bahwa ini adalah support yang baik, karena tidak menyadari bahwa NICA justru memusuhi Pemerintah Indonesia Merdeka. Lubis sempat menyadari, dan memberi peringatan kepada lainnya.

Namun saat ia bertolak pulang, ia diberi juga pangkat Mayor NICA, yang tentu ia tolak. Ia mengambil status sebagai dokter kapal, dan dalam status itu sempat menyelundupkan Dr Setia Boedi (Douwes Dekker) kembali ke Indonesia. Di Indonesia, Lubis meneruskan karir sebagai dokter, dan menolak berpolitik. Bekerja sebagai dokter di PT Timah, Belitung. Zaman kaum komunis Indonesia bangkit, Lubis difitnah dan dipensiunkan dini, karena dianggap tak mau mendukung kaum komunis. Tapi ia tetap tinggal di Belitung. Saat istrinya meninggal, baru ia pindah ke Jakarta. Lubis meninggal di ujung tahun 1994, nyaris tanpa perhatian dari bangsa kita.

Sumber : 1 , 2
[ baca selengkapnya.. ]